Kabupaten sampang merupakan kabupaten yang memiliki banyak jumlah pondok pesantren dan termasuk masyarakat yang agamis, begitu pula di Desa Banjar Talela. Masyarakat banjar talela sangat agamis dan memegang teguh ajaran islam dalam kesehariannya, ada banyak kegiatan agama yang dilakukan salah satunya yaitu muslimatan yang dilaksanakan tiap hari senin malam selasa sehabis sholat maghrib di rumah warga banjar talela bergantian setiap minggu nya. membaca yasin, tahlil bersama, sholawat dan ceramah agama. kami kelompok KKN 10 UTM mengikuti kegiatan muslimatan selama ada di Desa Banjar Talela, salah satu dari anggota kelompok KKN 10 pernah mengisi pengajian di acara muslimatan ibu-ibu disini sangat senang mendengar pengajian dari salah satu anggota KKN 10 UTM.

Desa Banjar Talela merupakan desa yang ada di kecamatan camplong kabupaten sampang, desa banjar tatela memiliki potensi yaitu tanaman jambu air.. hampir setiap rumah masyarakat banjar talela memiliki pohon jambu air, setiap musim panen jambu air masyarakat banjar talela biasanya menjual jambu air di pasar.. kami kelompok KKN 10 berinisiatif membuat proker mengenai sosialisasi Pariwisata agar dapat memaksimalkan potensi yang ada di desa Banjar Talela untuk dijadikan Desa Pariwisata.
dengan adanya proker ini kami berharap dapat mengundang masyarakat luar untuk datang ke Desa Banjar Talela dan mengenalkan desa banjar talela ke luar daerah.
Kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting, karna saat badan sehat kegiatan yang lain bisa dilaksanakan dengan baik. kami kkn kelompok 10 membuat program kerja Cek kesehatan gratis untuk memfasilitasi masyarakat cek kesehatan gratis, kami mendatangkan orang-orang yang mengerti dibidang nya itu ibu-ibu dari puskesmas camplong.. fasilitas yang diberikan yaitu timbang berat badan, cek tensi darah dan juga masyarakat dapat melakukan konsultasi dengan para perawat mengenai masalah kesehatan yang di alami oleh warga banjar telela..
selain itu masyarat juga mendapatkan penyuluhan tentang tata cara hidup sehat, cara memasak yang baik, dan olahraga.. masyarakat juga melakukan sharing-sharing dengan salah satu kelompok kkn 10 yang memberikan materi mengenai hal-hal kecil yang mereka alami..

Manja dan Jadol Ala KKN 10 UTM
Desa Banjar Talela Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang memiliki potensi yaitu jambu air yang melimpah. Dengan potensi yang besar ini membuat KKN 10 UTM berinisiatif untuk mengolah jambu air menjadi produk yang berkualitas. Mereka mengolah jambu air menjadi manisan dengan nama kerennya yaitu "Manja" serta mengolah jambu air menjadi dodol dan nama kerennya menjadi"Jadul".
Dengan adanya pembelajaran pengolahan ini membuat masyarakat senang karena dengan ini mereka tidak lagi memakan hasil tanamnya dengan biasa saja akan tetapi mereka bisa memakannya dengan olahan yang berbeda. Hal ini juga bisa menambah penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Mencuci tangan dengan sabun  adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi media pembawa kuman penyakit, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas).
Anak sekolah dasar merupakan kelompok usia yang rawan akan penularan penyakit. Kebiasaan anak-anak usia sekolah dasar yang kurang menjaga kebersihan dan sering kali makan jajanan di pinggir jalan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu membuat mereka sangat mudah sakit, baik sakit yang ringan maupun yang kronis. Hal ini jika terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan maka akan menjadi kebiasaan anak. Inilah yang menjadi dasar keprihatinan Saudari Musrifah Sebagai PJ Kegiatan untuk melakukan penyuluhan sekaligus gerakan Cuci Tangan Baik terhadap siswa-siswi di SDN Banjar Talela 2 Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang.
Acara dimulai dengan memberikan materi terhadap siswa-siswi Sd akan pentingnya cuci tangan. Setelah itu dilanjutkan dengan mempraktekkan cuci tangan dengan baik dan benar di halaman sekolah secara bergantian setiap kelasnya.
Salah satu guru mengatakan," Penyuluhan dan gerakan Cuci Tangan Baik memang sangat diperlukan oleh para siswa agar menjadi sebuah kebiasaan sejak dini. Hal ini agar mereka terbiasa hidup bersih dan bisa terhindar dari penyakit yang memang sangat mudah menyerang khususnya diusia mereka yang sangat belia".

Soliasisasi Pernikahan Dini
Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, dalam agama islm pernikahan diwajibkan bagi seluruh ummat Nabi Muhammad SAW. Dalam undang-undang Dasar 1945 sudah diatur mengenai pernikahan yaitu berdasarkan pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, batas usia menikah bagi perempuan ialah 16 tahun dana pria 19 tahun. Sudah menjadi hal biasa adanya pernikahan yang terjadi  pada usia belasan tahun, namun yang menjadi masalah yaitu berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKN). Pernikahan dini terjadi karena alasan adat atau kehamilan diluar nikah. BKKN juga melorkan bahwa lebih dari 50% pernikahan dini berakhir dengan perceraian. Pasalnya, banyak anak remaja belum dewasa (dalam hal kematangan cara berpikir untuk menyelesaikan masalah) dan kurang berpengalaman untuk menghadapi konflik rumah tangga, yang tentunya berbeda dengan pertengkaran saat masih pacaran.
Selain itu menurut Asteria Taruliasi Aritonang, Koordinator Gerakan Nasioal Kesehatan Ibu dan Anak (GNKIA), Kementerian Keseatan RI menyebutkan bahwa akibat yang cukup memberatkan dari pernikahan dini adalah pada rentan usia tersebut dari segi kesiapan secara fisik, salah satunya rongga panggul belum siap menjadi ibu. kehamilan pada usia muda pun menyebabkan anemia dan darah tinggi.
Banyaknya resiko yang ditimbulkan dari pernikahan dini kami berinisiatif untuk membuat sosialisasi pernikahan dini untuk membuka wawasan masyarakat terkait akibat yang akan dihadapi seorang anak ketika menikah pada usia dini, yang menjadi sasaran kami bukan hanya para remajanya saja namun juga para orang tua karena orang tua sangat berperan penting atas terjadinya pernikahan dini. Harapannya adalah masyarakat dapat mengambil pelajaran dari sosialisasi yang kami sampaikan, dan tidak lagi melakukan pernikahan pada usia dibawah umur.